Rabu, 29 Januari 2014

ingin 2014

0 komentar
hampir 12 bulan
terkurung, terkekang, tertekan
tak ada yang bisa dirasakan
sialan!

kapan aku datang kesini
kapan juga aku pergi
tak akan kusesali kala aku pergi dari tempat ini
aku ingin pergi

kecil masalah
besar ulah
ungkapan tak lebih dari pepatah
kala tak ada air mata sesal yang patah
tak ada pula hati yang patah

hanya semangat yang kadang payah
berada pada level terendah
tanpa bisa berubah
hanya selalu mengalah

sejak kapan pula aku tak merasa betah
hanya karena hidup bagaikan sampah
dibuang, namun sesal
kadang terasa payah

semua kata kata seakan tak bisa lepas
yang kadang malah menimbulkan kata keras
air mata juga kadang menetes
kala jemari juga saling menggenggam, kala untaian tangan tak dapat kuraih

semua terjadi begitu saja
aku mulai rindu
rindu. . .rindu. . .asu
kala engkau tak kunjung mau
mau meninggalkan ku. . .

seperti layakanya bidadari penyelamat
kadang ku tinggal. . .
kadang tak sempat ku tahu apa dalam hatimu yang memikirkanku
bukan kamu,
aku yang egois. . .bukan kamu

kala air mata tak dapat tertutup
keluarkanlah bersama alunan tarian pohon pinus malam
kala kata tak jua bisa
aku juga selalu berdo'a

kala angka berganti menjadi 14 aku ingin berteriak bebas
menuju kehidupan yang aku inginkan
bukan sekedar terkurung pada dinding bata yang bahkan bisa aku rusak kapanpun aku mau
kala 14 datang. . .kapan, aku menunggumu
ini bukan 14, ini masih 13
aku ingin 2014 ku sendiri. . .love you yur. . .

Sabtu, 19 Oktober 2013

teori musim

0 komentar
zaman telah berlalu
bersama dengan angin kalbu
yang terkadang bersama sapa bisu
tidak ada bayanganmu di situ
karena dirimu aman bersamaku

teori musim oh teori musim
entah kapan musim berganti
kadang hujan, kadang juga tak
kala terik, rintikan diharapkan turun. . .
kala rintik turun, teriklah yang diharapkan. . .

teori musim oh teori musim
tak ada rumusan
hanya saja bumi ini tak lagi perawan
tak ada hutan
tak ada pula makan
yang ada hanya kerusakan

teori musim oh teori musim
tengoklah sejenak ke sawah penghijau
ada seorang tua disana
menunggui ladangnya untuk ditanam apa
kadang panas berlebih...kadang hujan berlebih
"makan apa aku ini wahai semesta
aku tak tau rumus alam maupun musim. . .
yang ku tahu hanya rumusan hidup untuk bertahan di jaman yang tak lagi ku kenal ini. . .
ajarilah aku wahai alam teori musimmu agar aku bisa menjadi tuan di tanahku sendiri"

Minggu, 08 September 2013

bayangan

0 komentar
bagaimana bisa aku tidur nyenyak kalau hitamu masih membayang dalam aku
semua hal indah yang telah kujalani
kala tak ada tempat bercerita
kucoretkan dalam jingganya tembok berpadu lukisan monster kala itu
bagaimana pula aku lupa kala ku lewatkan malam dengan bercerita bersama kekasih tercinta
kala 3x4 masih menjadi kotak berpintu milikku
dengan berbagai kreafitias dan kreasi menghiasi sisi
sisi dingin kala disentuh namun hangat kala butuh

beralaskan ubin marmes hijau
kuselimuti kau dengan karpet hijau pula
kutambahkan abu-abu agar tambah hangat
kutambahkan pula televisi agar terlihat nyaman
agar tak perlu membayangkan acaranya di tembok belaka
kusulap pula menjadi mini movie box
ku usap pula lantai agar kekasih tercinta nyaman
kubuat senyaman mungkin layaknya rumah masa depan

internet, playstation, hanya segelintir kebahagian yang didapat
namun kenyamanan, kebahagiaan adalah hal luar biasa yang didapat
aku tak bisa beradaptasi
aku pergi
kala mei masih pagi
ku pamiti semua yang ada
dengan harapan lebih bahagia
harapan untuk lebih dekat dengan kekasih tercinta

aku tak bisa beradaptasi
aku tak bisa mengganti warna kulit layaknya bunglon
aku bisa menjadi burung gereja
aku tak bisa pula menjadi kelalawar
lalu aku harus menjadi apa kala penyesalan masih tertanam
bertambah subur tak pernah ku panen

hanya bayangan kotak, biarlah
kotor..biarlah
bocor...tidak pernah
gangguan serangga tidak ada
listrik mahal sama saja
tak ada yang spesial memang

lalu bagaiman kala semua berakhir karena kamar mandi
kunci. . .uang. . .jarak. . .dan cinta
pergi? bertahan? pulang?
berbayang penyesalan sungguh
sungguh
bayanganmu,buatku menyesal....dafuga

Rabu, 14 Agustus 2013

untuk yang terlupa (part 1)

0 komentar
jaman telah berganti
tak seperti dulu lagi
namun engkau tetap tegat menjalani hari
meski semangat tak seperti dulu lagi

pagi. . .
engkau masih berdiri melawan kompeni
tak kau hiraukan waktu kagi
keringat, tekad, harga diri dijunjung tinggi
untuk apa? untuk perjuangan tanpa henti
engkau tak bernama, tak pula seperti bung karno, bung hatta, bung tomo. . .
namun mereka tak akan bisa tanpamu
tanpa henti hujan pun tak kau rasa
semua hanya demi bangsa
kau hadapi semua dengan mata terbuka

siang. . .
saling serang tak lagi kau bimbang
langkah dan tekad sudah matang
tak apa apabila nanti menjadi bunga di medan perang
tiada apalagi kalau tak berjuang
daripada hidup dikurung kandang

sore. . .
kini kita telah bebas
engkau telah merasakan indahnya bebas
ini yang kita cita-citakan bersama
kala merah putih kini telah bebas berkibar
kenapa engkau malah dibuang?
seakan tekad dan harga diri ini hilang
kini engkau telah senja, matahari sudah tak secerah dulu
seakan tubuhmu ingin bercerita tentang perjuangan
hanya seragam dan wajah keriput ini yang ingin bercerita. . .bercerita untuk yang terlupa

Jumat, 19 Juli 2013

dera dera desember

0 komentar
“Dera Dera Desember”

                    —Anita Yusticia Sari

Menderalah hingga jauh
Seret aku dalam masa masa lewat
Dimana jiwa ranting kan patah
Terlapiskan badai
Maka patahlah sudah
Seret aku dalam derai hujan darah

Jiwa ranting kan patah
Peranti rajut laba-laba
Badai
Ombak
Bayang bayang
Maka patahlah sudah

Deralah aku hingga jauh
Dera aku dalam hujan darah
Telah kita tahui
Aku sedang bergaun biru
Sedang
Sedang...
Dia...

Aku tak bisa berpusing
Kan kah kau urungkan jua
Lagi...
Kan kah kau menyeret diri dalam Desember
Kembali...
Sedang
Sedang...
Dia...

Kembali deralah aku hingga jauh
Kelamkan langit bermendung kata
Seret aku dalam masa lewat

Aku
Malu
Sedang
Sedang...
Dia...
Gaun merah
Kembang kembang rose darah
Berlian pun jantungnya

Aku
Malu
Tak miliki jantung

Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Debu debu
Butir pasir
Kerikil
Pun koral
Menyusup untuk tahu tanya
Aku menolak
Tapi angin hanya berhembus
Berpusing
Menampar nampar
Lenyap
Mendayu kembali

Aku ini bukanlah jiwa karang
Kan lah kita tahui
Hanya ranting
Dan gaun biru ini tak pula kau tanggal
Sedang
Sedang...
Dia...
Selalu bergaun rose darah

Kan lah kita tahui
Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Aku hanya menyukai desir desir angin
Walau hilang walau datang
Maka datanglah

Jika kau ingin tinggal
Menetaplah
Tapi jika kau ingin bebas
Terbanglah
Juga dia
Terbanglah sudah

Aku
malu
Sedang dia

Aku tak berjantung...

Dera dera Desember
Deralah aku hingga jauh
Jiwa jiwa ranting kan patah
Maka patahlah
Peranti rajut laba laba
Maka terajutlah
Dera dera Desember
Cukup dera aku hingga penghujung Januari

Desember kelabu, hari 19, malam 20
Cukuplah 2012 saja

 aku terharu baca tulisan ini yur...tak terasa air mata pun tumbuh mengalir. puisi ini kusimpan di sini ya yur....seperti layaknya lembaran sejarah yang tak selamanya puith, hitam pun juga menjadi lembaran sejarah. makanya cerita kita yang pernah bersambung, biarlah jadi sejarah kelam yang jadi perjalanan kita. meskipun dicoba untuk dilupakan, sejarah tak akan bisa dilupakan, hanya akan ditutupi saja dan dibalikkan faktanya. untuk itu dengan adanya sejarah kita belajar dari peristiwa yang telah terjadi di masa lampau untuk memperbaiki di masa yang akan datang. dengan sejarah kita juga belajar kesalahan kita dari masa lampau agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi, karena dalam sejarah peristiwa yang sama tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. anita, mari kita buat sejarah kita sendiri. . .bukan hanya dera-dera desember, namun sang angin biru masih ada di sini.


dan ingin selalu merangkul mu....love you anita yusticiasari