“Dera Dera Desember”
—Anita Yusticia Sari
Menderalah hingga jauh
Seret aku dalam masa masa lewat
Dimana jiwa ranting kan patah
Terlapiskan badai
Maka patahlah sudah
Seret aku dalam derai hujan darah
Jiwa ranting kan patah
Peranti rajut laba-laba
Badai
Ombak
Bayang bayang
Maka patahlah sudah
Deralah aku hingga jauh
Dera aku dalam hujan darah
Telah kita tahui
Aku sedang bergaun biru
Sedang
Sedang...
Dia...
Aku tak bisa berpusing
Kan kah kau urungkan jua
Lagi...
Kan kah kau menyeret diri dalam Desember
Kembali...
Sedang
Sedang...
Dia...
Kembali deralah aku hingga jauh
Kelamkan langit bermendung kata
Seret aku dalam masa lewat
Aku
Malu
Sedang
Sedang...
Dia...
Gaun merah
Kembang kembang rose darah
Berlian pun jantungnya
Aku
Malu
Tak miliki jantung
Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Debu debu
Butir pasir
Kerikil
Pun koral
Menyusup untuk tahu tanya
Aku menolak
Tapi angin hanya berhembus
Berpusing
Menampar nampar
Lenyap
Mendayu kembali
Aku ini bukanlah jiwa karang
Kan lah kita tahui
Hanya ranting
Dan gaun biru ini tak pula kau tanggal
Sedang
Sedang...
Dia...
Selalu bergaun rose darah
Kan lah kita tahui
Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Aku hanya menyukai desir desir angin
Walau hilang walau datang
Maka datanglah
Jika kau ingin tinggal
Menetaplah
Tapi jika kau ingin bebas
Terbanglah
Juga dia
Terbanglah sudah
Aku
malu
Sedang dia
Aku tak berjantung...
Dera dera Desember
Deralah aku hingga jauh
Jiwa jiwa ranting kan patah
Maka patahlah
Peranti rajut laba laba
Maka terajutlah
Dera dera Desember
Cukup dera aku hingga penghujung Januari
Desember kelabu, hari 19, malam 20
Cukuplah 2012 saja
aku terharu baca tulisan ini yur...tak terasa air mata pun tumbuh mengalir. puisi ini kusimpan di sini ya yur....seperti layaknya lembaran sejarah yang tak selamanya puith, hitam pun juga menjadi lembaran sejarah. makanya cerita kita yang pernah bersambung, biarlah jadi sejarah kelam yang jadi perjalanan kita. meskipun dicoba untuk dilupakan, sejarah tak akan bisa dilupakan, hanya akan ditutupi saja dan dibalikkan faktanya. untuk itu dengan adanya sejarah kita belajar dari peristiwa yang telah terjadi di masa lampau untuk memperbaiki di masa yang akan datang. dengan sejarah kita juga belajar kesalahan kita dari masa lampau agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi, karena dalam sejarah peristiwa yang sama tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. anita, mari kita buat sejarah kita sendiri. . .bukan hanya dera-dera desember, namun sang angin biru masih ada di sini.
dan ingin selalu merangkul mu....love you anita yusticiasari
—Anita Yusticia Sari
Menderalah hingga jauh
Seret aku dalam masa masa lewat
Dimana jiwa ranting kan patah
Terlapiskan badai
Maka patahlah sudah
Seret aku dalam derai hujan darah
Jiwa ranting kan patah
Peranti rajut laba-laba
Badai
Ombak
Bayang bayang
Maka patahlah sudah
Deralah aku hingga jauh
Dera aku dalam hujan darah
Telah kita tahui
Aku sedang bergaun biru
Sedang
Sedang...
Dia...
Aku tak bisa berpusing
Kan kah kau urungkan jua
Lagi...
Kan kah kau menyeret diri dalam Desember
Kembali...
Sedang
Sedang...
Dia...
Kembali deralah aku hingga jauh
Kelamkan langit bermendung kata
Seret aku dalam masa lewat
Aku
Malu
Sedang
Sedang...
Dia...
Gaun merah
Kembang kembang rose darah
Berlian pun jantungnya
Aku
Malu
Tak miliki jantung
Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Debu debu
Butir pasir
Kerikil
Pun koral
Menyusup untuk tahu tanya
Aku menolak
Tapi angin hanya berhembus
Berpusing
Menampar nampar
Lenyap
Mendayu kembali
Aku ini bukanlah jiwa karang
Kan lah kita tahui
Hanya ranting
Dan gaun biru ini tak pula kau tanggal
Sedang
Sedang...
Dia...
Selalu bergaun rose darah
Kan lah kita tahui
Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Aku hanya menyukai desir desir angin
Walau hilang walau datang
Maka datanglah
Jika kau ingin tinggal
Menetaplah
Tapi jika kau ingin bebas
Terbanglah
Juga dia
Terbanglah sudah
Aku
malu
Sedang dia
Aku tak berjantung...
Dera dera Desember
Deralah aku hingga jauh
Jiwa jiwa ranting kan patah
Maka patahlah
Peranti rajut laba laba
Maka terajutlah
Dera dera Desember
Cukup dera aku hingga penghujung Januari
Desember kelabu, hari 19, malam 20
Cukuplah 2012 saja
aku terharu baca tulisan ini yur...tak terasa air mata pun tumbuh mengalir. puisi ini kusimpan di sini ya yur....seperti layaknya lembaran sejarah yang tak selamanya puith, hitam pun juga menjadi lembaran sejarah. makanya cerita kita yang pernah bersambung, biarlah jadi sejarah kelam yang jadi perjalanan kita. meskipun dicoba untuk dilupakan, sejarah tak akan bisa dilupakan, hanya akan ditutupi saja dan dibalikkan faktanya. untuk itu dengan adanya sejarah kita belajar dari peristiwa yang telah terjadi di masa lampau untuk memperbaiki di masa yang akan datang. dengan sejarah kita juga belajar kesalahan kita dari masa lampau agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi, karena dalam sejarah peristiwa yang sama tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. anita, mari kita buat sejarah kita sendiri. . .bukan hanya dera-dera desember, namun sang angin biru masih ada di sini.
dan ingin selalu merangkul mu....love you anita yusticiasari



0 komentar:
Posting Komentar