Jumat, 19 Juli 2013

dera dera desember

0 komentar
“Dera Dera Desember”

                    —Anita Yusticia Sari

Menderalah hingga jauh
Seret aku dalam masa masa lewat
Dimana jiwa ranting kan patah
Terlapiskan badai
Maka patahlah sudah
Seret aku dalam derai hujan darah

Jiwa ranting kan patah
Peranti rajut laba-laba
Badai
Ombak
Bayang bayang
Maka patahlah sudah

Deralah aku hingga jauh
Dera aku dalam hujan darah
Telah kita tahui
Aku sedang bergaun biru
Sedang
Sedang...
Dia...

Aku tak bisa berpusing
Kan kah kau urungkan jua
Lagi...
Kan kah kau menyeret diri dalam Desember
Kembali...
Sedang
Sedang...
Dia...

Kembali deralah aku hingga jauh
Kelamkan langit bermendung kata
Seret aku dalam masa lewat

Aku
Malu
Sedang
Sedang...
Dia...
Gaun merah
Kembang kembang rose darah
Berlian pun jantungnya

Aku
Malu
Tak miliki jantung

Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Debu debu
Butir pasir
Kerikil
Pun koral
Menyusup untuk tahu tanya
Aku menolak
Tapi angin hanya berhembus
Berpusing
Menampar nampar
Lenyap
Mendayu kembali

Aku ini bukanlah jiwa karang
Kan lah kita tahui
Hanya ranting
Dan gaun biru ini tak pula kau tanggal
Sedang
Sedang...
Dia...
Selalu bergaun rose darah

Kan lah kita tahui
Dalam bilik putih akan selalu ada celah
Aku hanya menyukai desir desir angin
Walau hilang walau datang
Maka datanglah

Jika kau ingin tinggal
Menetaplah
Tapi jika kau ingin bebas
Terbanglah
Juga dia
Terbanglah sudah

Aku
malu
Sedang dia

Aku tak berjantung...

Dera dera Desember
Deralah aku hingga jauh
Jiwa jiwa ranting kan patah
Maka patahlah
Peranti rajut laba laba
Maka terajutlah
Dera dera Desember
Cukup dera aku hingga penghujung Januari

Desember kelabu, hari 19, malam 20
Cukuplah 2012 saja

 aku terharu baca tulisan ini yur...tak terasa air mata pun tumbuh mengalir. puisi ini kusimpan di sini ya yur....seperti layaknya lembaran sejarah yang tak selamanya puith, hitam pun juga menjadi lembaran sejarah. makanya cerita kita yang pernah bersambung, biarlah jadi sejarah kelam yang jadi perjalanan kita. meskipun dicoba untuk dilupakan, sejarah tak akan bisa dilupakan, hanya akan ditutupi saja dan dibalikkan faktanya. untuk itu dengan adanya sejarah kita belajar dari peristiwa yang telah terjadi di masa lampau untuk memperbaiki di masa yang akan datang. dengan sejarah kita juga belajar kesalahan kita dari masa lampau agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi, karena dalam sejarah peristiwa yang sama tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. anita, mari kita buat sejarah kita sendiri. . .bukan hanya dera-dera desember, namun sang angin biru masih ada di sini.


dan ingin selalu merangkul mu....love you anita yusticiasari

Minggu, 07 Juli 2013

ingin pulang

0 komentar
bulan ke lima di tahun 2013 mungkin merupakan bulan paling menyebalkan yang ku buat karena kesalahan ku sendiri. betapa tidak, aku yang sejatinya menginginkan perubahan di tahun dan semesterku yang ke empat ini memutuskan untuk pindah dari tempat singgah. mulanya tanpa basa-basi dan keliling sana-sini aku sepakat untuk menempati tempat singgah ku yang baru. faktor kuat yang mendorongku untuk pundah tak lain adalah karena jadwal kuliah yang cukup merepotkan di semester tersebut. jarak antara kampus dan tempat singgah juga sebenarnya tidak terlalu jauh, namun juga tidak terlali dekat...!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1


aaarrrrrrrrrgggghhh!!!! yang ingin kukatakan adalah aku ini kenapa tidak pernah berpikir panjang!!! bodohnya aku di tempatku yang baru aku malah bagaikan kelalawar di dalam sangkar!!! aarrgggHHH!!! bodohnya aku....kebebasan ku dirampas oleh peraturan!!!
AKU INGIN KEMBALIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!
aku tidak tahan setahun harus seperti iniiiii.................

entahlah tulisan apa yang kutulis ini. hanya ingin bercerita,walaupun di dunia maya
tetap saja bahagia. di kala anita berkata "sabar", lebih baik kusebar perasaanku di sini. . . .

 

I AM STUCK!!

Sabtu, 06 Juli 2013

temani aku, Anita!

0 komentar
angin malam belum berhembus terlalu dingin
hari petang pun belum sepetang arang
kerlip butiran putih di langit pun berkolaborasi dengan warna biru pekat
sangat serasi menjadi saksi
dalam tempat itu aku terduduk
di depan kedua pohon yang berdiri tegak di depanku
angin pun tak mau kalah menyapaku
menerpa sisa-sisa keringat sesiang
ahh...tak kusangka raja panas memanasiku sepanas ini

terduduk aku disana
bersama sesosok wanita...tak seperti bidadari,biarlah
tak seperti peri,biarlah pula
hanya seraut wajah yang pancarkan rasa cinta
pancaran yang bahkan lebih terang dari sinar putri malam di langit
lebih terang pula dibandingkan bola-bola yang bersinar temaram di kejauhan

kuhabiskan malam itu
penuh cerita tentang nostalgia
bersama sayup suara-suara yogyakarta
berhias canda sederhana
bersama merajut jaring cinta bersamanya

andai aku bisa berbahasa rumput
andai aku bisa berbahasa tanah
andai aku bisa berbahasa angin
ingin kusampaikan biarkanlah ia nyaman berada di tanahmu, rumputmu, dan udaramu

lalu . . .kunikmati alunan yang mengalun di alun-alun
hei! biarkan aku bebas sejenak!!!!
temani aku, anita!!



"R"

0 komentar
teringat sekotak hitam di kamar
bukan jam kamar
bukan pula luka memar
ahh....kuputar putar saja bulatan hitam itu
kunikmati setiap alunan dayunya
hanya ada angka...angka...dan angka
ini sangat simpel
bukan matematika, bukan juga rumus fisika
hanya angka angka yang menyenangkan bila diputar terus
ku putar terus bulatan hitam ini
terhentilah tanganku di sebuah angka dengan kode 106,40
kudengarkan suara yang keluar
suara khas seorang yang ada di dalamnya. . .
ku ambil handphone ku. . .ku ketik pesan
bukan pesan makanan, apalagi toko online
ku sampaikan salam hangat untuk semua yang mendengarkan
tergelintir pula tersampaikan pada lagu yang diminta
radiolah...radiolah yang telah lam tak ku pegang
nampak usang. . .
namun tetap nampak benderang diantara elektronik lainnya
benar juga kata lagu yang kuminta
"jaman sudah berlalu tapi jejaknya tertanam selamanya. . .radio cerahkan hidupnya. . ."